Uang Jajan yang Selalu Habis

Nyatanya ini ternyata bukan persoalan aku seorang diri, ini adalah fenomena yang terjadi pada orang-orang yang masih ditanggung oleh orang lain (contoh: orangtua, kakak dll). Orang tua (orang tua teman-temanku juga dan mungkin orang tua kalian juga) sering “meniwas” (kata kerja dalam bahasa banjar namun belum menemukan paduan kata yang pas dalam bahasa Indonesia) anaknya

“Nggak ngerasain nyari duit sendiri, ntar tahu rasa susahnya”

“Kebiasaan hidup enak, apa-apa ada”

“Hidup nggak melulu enak”

Hmmm aku tidak bisa mengiyakan sepenuhnya karena sampai saat ini juga masih ditanggung oleh kedua orang tua. Namun, makin ke sini aku berpikir kembali bagaimana mumetnya kekurangan duit dan tidak mudah buatmu untuk meminta duit atau hanya sekedar minta jajan yang mahal yang dulu kegemaranmu (contoh: sharetea 30rb). Yaaaaaa kemudian inilah yang menjadi sesal kenapa dulu tidak menabung. KENAPA????! KENAPA???!

Aku sering tertampar sebenarnya ketika mengetahui teman-temanku yang punya duit jajan lebih sedikit dariku tetapi masih bisa menabung dan punya banyak tabungan. Duit jajanku sebenarnya tidak begitu sedikit dan tidak begitu banyak jika dibandingkan teman-teman satu daerah. Kurang lebih lah segitu. Ini bukan pembelaan dalih kurang, hanya sebatas informasi agar tidak memasang ekspektasi duit jajanku yang sangat banyak

Penyesalan yang sebenarnya tidak telat-telat amat buatku pribadi karena aku masih bisa mendulang tabungan dengan uang jajan saat lanjut kuliah nantinya. Di tulisan ini aku akan membahas beberapa penyebab kenapa uang tidak pernah cukup sehingga tidak bisa menabung. Tulisan ini merupakan refleksi diriku sehingga ini bersifat subjektif namun tidak menutup kemungkinan kita memiliki irisan kesamaan

1. Beli Makan di luar

Makan diluar sebenarnya tidak menjadi soal khususnya bagi anak-anak yang kost. Tapi akan lebih murah makan di kost masak sendiri. Jika makan di kost kamu masak nasi sendiri, beli lauk di luar itu juga masih jauh hemat dibandingkan makan di luar. Setidaknya kamu tidak bayar minum dan parker wkwkw. Sekitaran kampus paling ngeri tuh tukang parker dimana-mana. Wkwk. Anak rumahan makan di luar? Ya nggak papa si asal jagan terlalu sering. Kenapa makan diluar disaat kamu bukan anak kost dan di rumah kamu juga bisa makan dengan gratis? Nahhhhhhhhhh lohhhhhhhhhhhhhh. Kadang kita lupa esensi makan yang utama itu adalah kenyang. Ketika kamu makan di luar kemudian tidak kenyang ini menjadi soal berikutnya. Kamu akan makan lagi atau sekedar beli jajan karena akan lapar tidak pada waktunya. Jajan menehhhhhhhhhhh

2. Beli Minuman

Aku adalah golongan penyuka air putih jika dibandingkan es the atau es jeruk saat makan di warung. Lumayan bukan tidak bayar air minum saat makan di luar. Namun siapa yang tidak tergiur dengan segarnya minuman dingin terlebih saat cuaca panas? Nah inilah yang menjadi sebab lain kenapa uang sering habis. Nikmatnya thai tea, es cokelat, minuman keju atau bahkan es kopi pelan-pelan menggerogoti kantong. Awalnya karena menginginkan kesegaran saja tapi lama kelamaan menjadi kebiasaan untuk membeli minuman sebagai kebutuhan. Sampai-sampai bela-belain membeli minuman di tempat yang terpisah. Tidak bisa dipungkuri memang minuman-minuman itu nikmat sekali bahkan diminum saat tidak panas tetap nikmat.

3. Punya banyak banyak dan circle pertemanan

WKWKWKWKKK Ini menjadi persoalan serius karena budaya pertemanan kita adalah jalan dan makan. Dalam circle pertemanan  akan ada lagi circle kecil entah berdua atau bertiga dst. Hitunglah berapa uang yang harus kamu keluarkan untuk pertemananmu. Ya syukur-syukur jika circlemu bukan foodie tapi tetap saja pertemuan tanpa makan dan minum terlalu awkward. Makan bareng esensinya bukan hanya kenyang tapi berdiskusi (diksi diplomatis) Ya terlepas apa yang kalian diskusikan makan bareng memang momen yang menyenangkan untuk bertukar kisah. Benar bukan?

4. Makan cantik yang tidak punya aturan

Nah ini bisa dikatakan adalah akaibat dari terlalu banyak teman. Akibatnya makan cantik yang seharusnya hanya dilakukan di weekend bisa membengkak karena mengiyakan ajakan teman di lain circle. Menolak bukannya susah tapi kita juga perlu menjaga pertemanan salah satunya membayarnya dengan makan cantik ini. kwkwk

5. Teman lupa bayar makanannya

Kalo makan bareng kan sering banget tuh dibayarin duluan sama salah satu yaa biar nggak ribet dan lama aja. Kadang sungkan buat nagih ya walau nggak seberapa tapi bisa buat sekali makan.  Ya kalikan saja dengan beberapa teman yang “kamu bayarin” Nggak salah teman juga sih, bisa jadi dia benar-benar lupa.

6. Banyak waktu luang

Karena gabut biasanya pengen ngunyah yang artinya jajan. Kalo nggak jajan ya jalan, jalan beli minuman.

7. Prioritas yang belum diatur cermat

Ini mengenai lupa menyisihkan duit untuk kebutuhan perbulan. Untuk aku misalnya terbiasa membeli barang-barang ukuran besar akan habis lebih dari sebulan atau bahkan hingga 3 bulan. Nah duit yang awalnya dialokasikan untuk kebutuhan sehari-hari malah dialih fungsikan ke hal lain, umumnya ke makan. Ini adalah kesalahan karena dibulan akan datang kebutuhan akan membengkak

Nah itulah 7 faktor yang mepercepat habisnya uang tanpa ku sadari. Aku sadar aja si sebenarnya apalagi kalo recall memory kemudian diakumulasikan tetap bakal kaget si tapi melihat angkanya. Nggak ada kata terlambat katanya, yuk mari mulai sama-sama menyisihkan uang secara konsisten. Agar dikemudian hari saat sudah tidak dapat meminta duit lagi tidak bingung dan menderita. Aku juga sedang memulai untuk konsisten hemat dan menabung. Ohiya ada banyak metode pembagian persentase ideal untuk pemasukan kita. Yang lagi hype itu ada KAKEIBO,mengatur keuangan ala masyarakat Jepang.  Kalo aku memilih mengikuti persentase dari Felicia Angelista (Youtuber membahas keuangan termasuk investasi) dengan sedikit modifikasi. Felic juga memberikan link unduh template untuk mempermudah kita membagi duit kita. Pilihan ada di kalian, terserah memilihnya yang mana.

Itu saja dariku semoga kita tidak terus larut dalam konsumenrisme~

Sebuah Novel berjudul Buku Panduan Matematika Terapan

Buku ini ku ketahui dari berita dirilisnya nominasi untuk Kusala Sastra Khatulistiwa 2018 (sebuah ajang penghargaan kesusastraan Indonesia). Ia menjadi nominasi bersama dengan Ibu Susu – Rio Johan dan Ovulasi yang Gagal – Putu Vivi Lestari untuk kategori karya pertama dan kedua. Walaupun akhirnya tidak keluar sebagai pemenang, namun buku ini memilki keunikan yang menjadi daya tariknya sendiri. Aku termasuk orang yang terpikat karena judulnya. Buku yang berjudul sangat unik ini adalah sebuah novel. Orang-orang mungkin akan salah paham ketika ditanya lagi baca apa dan kita menjawab “ lagi baca buku panduan matematika terapan” pastilah dikira kita sedang membaca sebuah buku yang berisikan rumus-rumus.

Novel yang ditulis Triskadekaman, terkesan sangat antimainstream dalam penulisannya menggunakan istilah-istilah matematika yang bahkan asing di telinga orang-orang awam. Tidak hanya istilah matematika saja yang tidak ku ketahui ketika membaca buku ini tapi diksi sastra juga asing ditelingaku, seperti ….. (tbh aku lupa mencatatnya dan  terlalu malas membuka kembali)

Penulis sangat jenius dalam menghubungkan relevansinya istilah matematika dengan cerita yang dia tulis. Tepatlah kiranya jika novel ini dikatakan matematika terapan karena matematika dibuat sangat dekat dengan realita. Seperti modus dengan argumentum ad papulum dan bilangan prima yang mana merupakan bilangan istimewa.  Penulis tidak membiarkan kita terlalu larut bingung dengan narasi teralalu panjang karena dalam sebuah bagian hanya terdapat 2-5 halaman. Setiap bagian terkadang diawali dengan istilah matematika yang terdiri dari 52 bagian (contongnya variabel, negasi, prima, rasio emas, outliner dll) dan symbol heksagram 64 buah, total 116 bagian. Awalnya aku mengira itu hanya symbol sembarang symbol heksagram tapi ternyata setelah melihat buku ke halaman belakang aku menemukan penjelasan itu adalah heksagram I ching yang ternyata memilki makna tersendiri.

Novel ini mengisahkan Mantisa dan Prima sebagai pemeran utama. Dan nama lain seperti Sekar dan Tarsa menjadi karakter yang tidak kalah penting dalam novel ini. Dimulai dengan mengisahkan kelahiran, mendeskripsikan bagaimana proses di dalam kandungan sampai akhirnya melahirkan. Maka dari itu Prof. Agus Nuryatin memberikan komentar dengan mengatakan penulis memiliki referensi yang kuat mengenai ilmu kedokteran, matematika, bahasa, dan budaya. Ya benar budaya juga dikisahkan dalam novel ini seperti kepercayaan orang tiongkok dengan angka sial 4 dan 13.  Selain itu, juga disebutkan teori matematika dari Tiongkok yang dianggap inferior di Barat padahal menurut penulis akar matematika yang terdapat pada The Nine Chapters of Mathematical Art yang ditulis oleh ilmuwan-ilmuan Tiongkok.

Mulanya menceritakan tentang seorang Mantisa yang banyak bertanya membuat pengasuhnya/ ibu panti nya kesal karena tidak dapat menjawabnya. Ini menggambarkan ageism seorang yang lebih tua yang tidak mau terlihat tidak tahu dengan menyalahkan si anak terlalu cerewet. Polosnya seorang anak kecil untuk terus bertanya adalah sesuatu yang harus dirawat sampai tua karena sikap tersebut merupakan skeptic yang positif, merawat nalar.

Meski memiliki alur maju, novel ini seperti jalan di tempat karena waktu yang “dihilangkan” oleh tokoh. Para tokoh seolah tidak punya limit waktu untuk menjawab pertanyaan dari Tarsa mengenai P dan NP (persamaan sulit matematika). Menyelami mimpi atau lebih tepatnya hidup di dalam mimpi dialami kedua tokoh baik Mantisa maupun Prima. Memberikan kesan jika mimpi tidak hanya sebatas mimpi tapi juga kehidupan nyata atau realita. Di dalam mimpi mereka membahas buku The Nine Chapters of Mathematical Art dan juga belajar menggunakan Abakus (aka sempoa) Seperti novel umumnya, novel ini membuat kita penasaran dan ingin sekali menghabiskan buku agar mendapat jawaban atau akhir cerita. Entah ini keluputan dan pada dasarnya aku memang bodoh, setelah selesai membaca aku malah mendapati diriku bertambah bingung mengenai ceritanya. Transenden dan cerita menghilangkan “waktu” nampak menjadi sebab. Ketidaktahuan akan teori manusia / jiwa transenden membuat tidak masuk akal bagiku. Namun aku masih punya asumsi lain mengenai akhir novel ini. Yang pertama, pada bagian akhirnya rangkuman atau pisau occam, kita diminta memilih hipotesis dengan jumlah asumsi yang terkecil jika tersedia beberapa hipotesis menuju suatu kesimpulan yang sama sebagai pilihan yang lebih baik atau lebih benar. Yang kedua sebenarnya bisa saja menjadi bagian asumsi pertama (salah satu hipotesis) tetapi di sini aku membedakannya dengan yang pertama. Sama halnya dengan NP yang tampak begitu kasat mata, jelas, dan terpampang namun menjadi tetap misteri dan beberapa hal memang tidak pernah kamu temukan jawabannya, termasuk akhir cerita novel ini. Bingung? Baguslah kalo kamu juga bingung. Aku jadi punya teman bingung juga.

Turn Back Anxiety!

Aku menemukan buku ini rak self improvement gramedia,berjejer dengan the art of living yang juga ditulis Erich Fromm. Self improvement memang menjadi salah satu rak favoritku ketika mengunjungi toko buku. Singkat cerita aku mendapatkan buku ini dari seorang teman yang diminta temanku yang lain untuk memberikan kado kelulusanku Desember yang lalu.

Buku ini menarik perhatianku karena keinginanku yang tidak lain resolusi 2019 untuk lebih banyak mendengarkan. Aku mengchallenge diri sendiri dengan sedikit bicara salah satunya adalah dengan banyak menulis. Menuliskan keluh kesah ataupun pendapat melaui media. Dalam hal mendengarkan ternyata ada seninya atau bahasa mudahnya caranya. Buku ini dari judulnya dirasa akan membantu mewujudkan resolusiku untuk banyak mendengarkan. Tidak banyak pertimbangan sebenarnya menjatuhkan hati ke buku ini selain karena judulnya juga karena penulisnya yang merupakan seseorang yang expert dalam psikologi dengan kekhususan psikoanalisa. Erich Fromm juga menulis buku yang telah banyak dibaca teman-teman saya yaitu the art of loving. Sudah lama sebenarnya ingin membaca buku ini, hanya saja belum mendapatkannya. Beberapa teman mengatakan buku itu bagus menjadi referensi dalam memahami cinta. Nanti aku juga akan membahas buku ini. Doakan semoga selalu istiqomah menuliskan resensi, hehehee

Seperti yang sudah aku paparkan di atas, The Art of Listening ditulis Erich Fromm seorang Psikoanalis yang sebenarnya bukan naskah asli melainkan kumpulan dari kuliah-kuliah, wawancara, dan seminar-seminar. Itulah informasi yang aku dapat dari kata pengantar editor edisi bahasa inggris. Erich Fromm adalah Freudian atau lebih tepatnya Neo Freudian karena dia mencintai teori Freud dengan kritik. Selain Freudian ia juga seorang Marxism. Hal itulah yang menjadi sandaran teori Fromm, perpaduan Freud dan Marx.

Kembali membahas buku the art of listening, buku ini diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia yang awalnya diterbitkan oleh Jendela pada 2002 kemudian diterbitkan Perpustakaan Nasional tahun 2018 atas kerjasama Immortal Publishing and Octopus. Mungkin hal ini yang menyebabkan buku setebal 316 halaman ini bisa dibilang murah yaitu, Rp 59.000 untuk sekelas di took buku gramedia. Buku ini terdiri dari dua bab. Buku ini disusun secara komprehensif yang membuat semakin kebelakang membuat kita semakin mejadi lebih memahami dan menyelami pemikiran Fromm. Di belakang bukunya terdapat kutipan dari buku ini (aku meyakini ini karena merasa tidak asing dengan kata-katanya)  :

“Semakin kuat trauma maka semakin besar kemungkinan untuk sembuh. Semakin kita memahami diri sendiri, tentu saja semakin tepat keputusan-keputusan yang kita ambil. Semakin kurang kita memahami diri sendiri, maka semakin membingungkan kepututusan-keputusan tersebut”

Bukan tanpa alasan pemilihan kutipan tersebut dipilih editor untuk menghiasi sampul belakang pastinya. Kutipan tersebut menjadi pengantar yang bagus untuk mengetahui apa sebenarnya isi buku ini. Buku ini membantu psikoterapis untuk mendengarkan pasiennya dengan cara benar agar hasil analisa yang didapat akurat. Meski buku ini dihimpun dari kuliah, wawancara, dan seminar yang mana kemungkinan besar audiences Fromm seorang psikoterapis juga, bukan berarti buku ini tidak dapat dibaca orang awam seperti ku. Buku ini sangat ringan dan mudah dipahami oleh seorang awam sekalipun. Secara garis besar buku ini membahas bagaimana menghadapi berbagai permasalahan psikologis yang diderita manusia zaman sekarang. Fromm membahas mengenai narsisme yang sedikit banyak melekat pada manusia. Fromm bahkan mengatakan mengatasi narsisme adalah pekerjaan seumur hidup yang tidak akan selesai. Pernyataan Fromm ini mengingatkan pada yang pernah disampaikan Romo Haryatmoko dalam suatu kesempatan jika permasalahan manusia modern sekarang adalah groofy. Beliau pernah menyampaikan sebuah pertanyaan yang sangat mendalam mengenai kiprah kita yang seolah memperjuangkan nilai padahal nyatanya karena ingin mendapatkan keakuan yang tidak lain narsisme itu sendiri.

Di bab pertama kita akan menjumpai pejelasan Fromm mengenai kondisi pasien dan juga membedakan apa yang disebut neurosis ganas atau jinak. Bab pertama begitu membosankan kurasa karena bersifat teoritik mengenai penjabaran faktor-faktor pendorong perubahan kondisi pasien, faktor penyembuhan menurut Freud dan kritiknya, dan juga faktor penyembuhan lain. Menarik untuk membahas faktor penyembuhan lain. Di sini Fromm secara tegas menyampaikan “berada di sini saja tidaklah cukup” artinya seorang psikoterapis meskipun professional bukan berarti satu-satunya hal yang dapat menyembuhkan permasalahan psikologis. Fromm memaparkan 8 faktor lain yang memengaruhi penyembuhan yang dibahas di bagian terakhir bab 1.

Di bab kedua, banyak sekali berisi hal-hal yang membuat ku mengatakan “ini aku banget” yang berarti saya menyadari diri ini sesakit apa yang disampaikan Fromm sebagai persoalan masyarakat zaman sekarang. Bab kedua diawali dengan membahas psikoanalisa itu apa dan Fromm mendefinisikan sebagai seni untuk mendengarkan. Di sini Fromm mengatakan jika psikoanalisa adalah alat untuk memahami diri sendiri dengan kata lain memerdekakan diri terwujudnya mindfulness. Fromm juga menyebut meditasi sebagai alat lain yang dapat digunakan.

Perbedaan pandangan dengan Freud terlebih mengenai teori Freud menjadikan masa kanak-kanak menjadi penentu hidup seseorang disampaikan Freud pada awal-awal Bab kedua. Peristiwa di masa kanak-kanan memang dapat menjadi penentu perkembangan masa berikutnya tetapi masa berikutnya juga mampu melemahkan atau bahkan menghilangkan trauma sebelumnya sehingga tidak dapat dikatakan peristiwa berikutnya tidak menyumbang apapun.  Selain itu, Fromm juga mengkritik Freud, Horney dan Sullivan yang tidak memasukkan masyarakat/ faktor budaya sebagai hal yang perlu dianalisa. Kritik lain yang terdapat dalam buku ini adalah melakukan pembesaran hati yang salah. Hal tersebut akan berakibat mematikan atau membahayakan karena meminimalkan kepelikan akan menghalangi proses pemunculan energy cadangan. Justru dengan menjelaskan sejelas-jelasnya betapa berat dan parah kondisi orang tersebut akan semakin banyak energy cadangan yng dimobilisasi dan makin dekat si pendengar membawanya ada kemungkinan untuk sembuh. Dalam hal ini aku memahami maksud Fromm ini menyadarkan atau menghadapkan seseorang pada kenyataan dengan penerimaan. Tidak ada yang lebih baik memang menerima keadaan meski kenyataan itu buruk.

Bab kedua juga berisi tafsir mimpi yang dipercayai baik Fromm ataupun Freud yang entah sekarang apa masih dianggap relevan dengan keilmuan terbaru mengenai mimpi. Fromm menjelaskan mimpi adalah proses alam bawah sadar yang penting sehingga kita perlu mencatatnya rutin (pasien) dan terapis harus memiliki pengalaman dan sensitivitas sedemikian banyak untuk dapat menafsirkannya. Pengalaman dan sensitifitas kemudian dia sebut dengan empati. Dibagian 9 masih dalam Bab 2 berisikan studi kasus nyata. Kita diajak untuk berpikir sebelum akhirnya Fromm menjelaskannya dengan ringan untuk dipahami seorang awam sepertiku mengenai hasil analisisnya. 

Bagian 10 dan 11 menjadi bagian favoritku karena ini paling relate rasanya dengan keadaanku. Bagian sepluh berisikan metode-metode baku untuk menyembuhkan neorosis-neorosis modern. Bagian ini diawali dengan sebuah pernyataan yang ngena sekali

“Hal khas dalam neurosis modern adalah bahwa orang-orang menderita karena dirinya sendiri….”

Dengan yakin aku menjawab benar sekali semua karea ekspektasi dan pasti tetap narsisme yang kukatakan sebenar-benarnya toxic. Metode pertama yang disampaikan Fromm adalah Mengubah tingkah laku diri sendri. Fromm memulainya dari dalam, memahami diri sendiri. Terdapat 7 metode lain yang disampaikan Fromm dalam bagian 10 ini yang sangat berguna untuk self healing. Di bagian 11 hanya berisi tiga halaman. Bagian dituliskan dengan singkat dan padat yang sebenarnya adalah rangkuman dari apa-apa yang telah disampaikan pada bagian sebelumnya. Yang menjadi poin terpenting dari teknik psikoanalisa adalah dengan menguasai diri sendiri terlebih dahulu.

Buku yang awalnya dianggap menjadi jalan agar lebih mendengarkan orang lain ini, malah lebih berisikan mengenai memahami diri melalui pemaparan derita yang disebabkan diri sendiri. Ini membawa pada penyadaran dan evaluasi besar-besaran mengenai konsep diri yang selama ini didominasi dengan harga diri yang berkaitan erat dengan narsisme. Maka tepatlah jika buku ini tersusun di rak self improvement.

Secara keseluruhan aku menyukai buku ini namun ada hal yang kurang dapat dipahami mengenai seksualitas Fromm (juga Freud). Hal tersebut terkesan wajar karena sebagai orang awam yang tidak tahu pemikiran Fromm ataupun Freud sebelumnya tidak dapat menginterpretasikan maksud atau bahkan relevansinya malah dengan seni mendengarkan (psikoanalisa) yang dibahas. Tapi seperti yang ku sampaikan jika hal tersebut tidak mengurangi keberhasilan Fromm dalam mentransfer maksudnya pada pembaca melalui bukunya ini

Segitu saja yang bisa ku tuliskan di sini. Selebihnya bisa kita diskusikan. Selamat membaca !

Blog di WordPress.com.

Atas ↑

Buat situs web Anda di WordPress.com
Memulai